Kotak Pencarian

Memuat...
Ada kesalahan di dalam gadget ini

18.9.10

UPAYA GURU DALAM MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL (EMOTION INTELEGENT) PESERTA DIDIK

Sebagai Guru tanggung jawab yang paling besar adalah mendidik peserta didiknya untuk mencapai cita-cita yang diinginkan Tidak cukup hanya belajar mengajar tapi harus mengembangkan potensi-potensi yang ada supaya tahap-tahap perkembangan yang ada pada dirinya dapat atau mampu mereka lewati dengan baik dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Satu di antaranya adalah kecerdasan emosi anak yang masih sering dilupakan kita semua.
Para orang tua terkadang tidak mengerti bahkan tidak tahu sama sekali sejak kapan kecerdasan emosi anak itu harus digali dan dikembangkan dengan maksimal.
Bagaimana mengembangkan kecerdasan emosi anak? Emosi yang cerdas adalah emosi yang memperoleh pendidikan terbaik, terutama di saat pemiliknya berusia dini. Pendidikan emosi tidak bisa disampaikan secara teoritis dan verbal, tetapi harus dengan praktek Melalui beragam peristiwa dan kejadian yang dialami dilihat dan di dengar anak. Semakin banyak anak mengalami melihat, dan mendengar seluruh nilai, semakin kuat nilai tersebut tertancap di otaknya. (Irawati Istadi, 2006 : 56)
Pola asuh yang berbeda dari setiap guru akan mempengaruhi kepribadian anak kelak. Pola asuh Otoritatif (Pola asuh yang berusaha menyeimbangkan antara batas-batas yang jelas untuk tumbuh, mampu memberi bimbingan, tetapi tidak mengatur memberi penjelaan tentang yang mereka lakukan serta membolehan anak memberi masukan dalam pengambilan keputusan-keputusan penting) adalah pola asuh yang cukup efektif diterpakan dalam mengembangkan kecerdasan emosional peserta didik. Dengan pola ini akan membentuk anak yang percaya diri, mandiri, imajinatif, mudah beradaptasi dan disukai banyak orang. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola ini mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi. (Pam galbraith & Rachel C. Hoyer, 2005 : 45-47)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menumbuhkembangkan kecerdasan emosional antara lain :

1. Empati adalah dasar.
Menurut seorang psikolog dari Inggris Dr. John Browlby : Anak-anak yang ditenangkan ketegangannya dengan dirangkul, dipeluk, dan diberi sentuhan fisik lainnya sejak bayi memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk berempati terhadap penderitaan orang lain pada saat mereka tumbuh sebaliknya anak-anak yang tidak mengalami sentuhan fisik ini cenderung merasa tidak peduli pada kesulitan orang lain. (Pam Galbraith dan Rachel C. Hoyer, 2005: 150-151)
2. Belajar mendengar
3. Mengungkapkan emosi lewat kata-kata.
4. Memperbanyak permainan dinamis
Dengan permainan yang dinamis, anak belajar memusatkan perhatian lebih pada proses yang lebih baik dan bukan pada hasil akhirnya saja.
5. Musik indah dengan ritme teratur
Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musika akan lebih berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. (Bambang Sujiono dan Yuliani Nurani Sujiono: 116-119)

Kecerdasan emosi sudah dapat dilatih atau dikembangkan sejak usia dini, sesuai dengan jiwa perkembangan anak. Untuk mengembangkan emotional intelegence pada anak-anak, Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang tua, guru, pengasuh, yaitu :

1. Agar anak mengerti perbedaan antara yang “baik” dan yang “buruk”.
2. Anak dapat mengembangkan sikap peduli, dermawan/suka menolong ramah, dan pemaaf
3. Anak dapat merasakan reaksi emosi negatif, misal : malu, merasa bersalah, marah, takut dan merasa rendah bila melanggar aturan dan melakukan perbuatan yang prososial (memperhatikan kepentingan orang lain) missal :
4. Dua emosi positif utama yang membentuk perkembangan moral adalah empati dan naluri pengasuhan (kemampuan untuk menyayangi).
5. Melatih kejujuran
6. Membangun kepercayaan
Bermain “jatuh ke belakang”.
Berdirilah di belakang anak suruhlah ia menjatuhkan diri ke belakang. Jaga supaya anak tidak jatuh, ini dilakukan agar anak tahu bahwa ia harus percaya pada anda yang siap menjaganya.
7. Emosi moral negatif : rasa malu dan rasa bersalah
Lebih berdaya guna daripada emosi positif, ketika seseorang belajar mengubah perilakunya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jika Anda suka artikel ini, mohon dukung dengan cara klik salah satu link di bawah ini.

Ada kesalahan di dalam gadget ini